Alhamdulillah, semakin hari kemampuan membaca (huruf latin) Nadya semakin baik. Ini ditunjang oleh keinginan kuat Nadya untuk membaca yang cukup besar. Maka belanja buku & majalah anak-anak kami jadikan agenda bulanan.
Seperti halnya anak-anak lain yang sudah pandai membaca, Nadya gemar membaca tulisan di mana saja dia temukan. Di dalam buku, majalah, di papan reklame, sampai tulisan di koran.
Entah bagaimana mulanya. Suatu hari kami dibuat heran oleh Nadya yang sedang membaca sebuah berita di harian Radar Depok. Yang membuat kami heran adalah karena posisi tulisan yang Nadya baca terbalik. Ternyata, Nadya sudah bisa membaca tulisan terbalik, cukup lancar. Itu terjadi sejak bulan Januari lalu.
Kemampuan baca Nadya lainnya yang cukup mengagumkan di usianya saat ini adalah Nadya bisa memahami fungsi penomoran halaman pada koran. Itu kami ketahui ketika dia membaca potongan berita yang merupakan sambungan dari halaman sebelumnya (halaman-1). Ketika membaca bagian atas berita itu, dia tiba-tiba membolak-balik halaman koran tersebut. Halaman-1 pun dia temukan. Alangkah senangnya ketika dia menemukan potongan lain dari berita tadi. Dia pun berujar,”Nah… ini dia sambungan yang tadi”.
Saturday, March 19, 2011
Keterampilan Membaca
Aneka Pertanyaan
Kemampuan seseorang berfikir sejalan dengan perkembangan usianya. Mungkin karena perkembangan otak seiring dengan perkembangan usia. Pada usia 5 tahun saat ini, Nadya banyak menyampaikan pertanyaan tentang berbagai hal yang dipikirkannya.
Pada suatu kesempatan bepergian dengan umminya naik angkot, Nadya memperhatikan arah gerak kendaraan dan jalur yang dilaluinya. Ia pun bertanya, “kenapa kendaraan yang di sini (sambil menunjuk jalur angkot yang dinaikinya) semua menuju ke sana, kalau yang di sebelah menuju ke sana (arah yang berlawanan)?”
Pada waktu lain, Nadya & Hilmi kami beri koin (pecahan 200an) untuk dimasukkan ke celengan masing-masing. Setelah mendapatkan koin itu, muncul keinginan mereka untuk jajan dengan koin itu. Mereka pun diberi penjelasan bahwa dengan uang segitu, tidak ada yang bisa dibeli. Nadya kemudian bertanya, “kalau begitu, untuk apa uang begini dibuat?”
Monday, January 24, 2011
Logika Anak-anak
Logika Nadya cukup menonjol belakangan ini. Dia sering menunjukkan kalau cara berpikirnya lumayan berbobot. Suatu hari, saat Abi bingung mencari titik bocor kasur pompa yang sudah 3 dibeli, nadya memberi usul: “Abi buka baju saja supaya bocornya gampang didapat”.
Hari yang lain, saat berangkat ke sekolah bersama Hilmi ditemani Abi, kami berpapasan dengan penjual layangan kecil untuk anak-anak. Penjual layangan tersebut menanyakan lokasi sekolah Nadya dan Hilmi dengan maksud ingin menjual layangannya di sekolah tsb. Setelah Abi menunjukkan dengan penjelasan, penjual itu meneruskan langkahnya berlawanan arah dengan kami. Nadya berkomentar, “kenapa penjual itu tidak ikut saja dengan kita ya, Bi. Kan dia bisa tahu sekolahnya”.
Ummi sudah memberikan gambaran pada anak-anak kami bahwa kami akan kembali ke makassar kira-kira pada bulan Agustus 2011. Sementara itu, sekolah di PAUD dan di makassar sudah mulai pada bulan Juli. Jadi, ada jeda sekitar sebulan anak-anak tidak aktif sekolah. Nadya melangkah ke arah kalender yang tergantung di dinding. Dia mengamati sesaat kalender itu, kemudian buru-buru memanggil umminya. “Ummi, sini deh. Nih coba liat, kita kan pulang bulan 8. Sekolah kan bulan 7. Berarti Nadya masih bisa sekolah di PAUD kelas C1 bulan 7. Ya nggak, Mi?”
Tuesday, January 11, 2011
Biarkan Saja
“Abi, tiga puluh tambah tiga puluh satu berapa?” tiba-tiba saja Nadya bertanya soal hitungan sepulang dari mengaji sore kemarin. Karena merasa hanya pertanyaan sepintas, saya tidak menanggapinya serius. Ketika Nadya menanyakannya sekali lagi, saya hanya jawab “belum waktunya Nadya tahu.”
Sesaat kemudian, saya sadar bahwa tidak sepantasnya menghambat rasa ingin tahu anak. Tapi saya juga penasaran, kenapa Nadya tiba-tiba mau tahu penjumlahan bilangan yang terbilang besar seperti angka 31 dan 30 itu. Maka saya coba menanyainya. “Memangnya kenapa Nadya mau tahu 31 tambah 30. Ada yang tanya?” Dia menjawab, “Tadi, aku Cuma pikir-pikir sendiri. Bagaimana caranya menghitung tambah-tambah kalau tidak cukup lagi pakai tangan sama kaki?”
Akhirnya, saya coba menjelaskan penjumlahan seperti itu dengan cara yang sederhana. Alhamdulillaah, Nadya bisa memahami. Penjumlahan yang angka depannya dijumlahkan sendiri dan angka belakangnya dijumlahkan sendiri juga. Tentu saja hanya sampai di situ dulu. Saya sengaja tidak melanjutkan dengan penjumlahan yang jumlah angka-angka belakangnya lebih dari sepuluh.
Beberapa hari sebelumnya, Nadya memang sudah belajar bagaimana menjumlahkan bilangan yang masih bisa dihitung dengan menggunakan tangan dan kaki. Ummi yang mengajarinya. Tapi itu atas kemauan Nadya sendiri. Penambahan bilangan yang jumlahnya hanya sampai sepuluh sudah lama diketahuinya, bahkan tanpa menggunakan jari-jari tangan. Lagi-lagi itu bermula dari rasa ingin tahu Nadya sendiri tanpa ada agenda untuk mengajarinya.
Menjumlahkan bilangan 31 dan 30 untuk anak seusia Nadya yang baru saja berulang tahun yang ke-5 memang terasa terlalu cepat, tapi biarkan saja jika dia sudah mau tahu. Biarkan dia mengeksplorasi dirinya sendiri. Sebagai orangtua, saya dan Ummi wajib memfasilitasinya, sebisa yang kami mampu, tentunya.
Friday, December 10, 2010
Belajar tentang Tauhid
Tiba-tiba saja, saat makan malam, Hilmi banyak bertanya tentang masalah tauhid (pada Ummi). Nadya menyambung pertanyaannya sesekali. Berikut ini percakapan mereka:
Hilmi: “Allah itu 2 atau 3?”
Ummi: “Allah itu Maha Esa. Allah itu 1.”
Hilmi: “Allah itu matahari?”
Ummi: “Bukan, Allah yang menciptakan matahari.”
Nadya: “Allah itu awan?” (Nadya menyambung pertanyaan Hilmi)
Ummi: “Bukan, Allah juga menciptakan awan dan semua makhluk hidup.”
Hilmi: “Bagaimana sih bentuknya Allah?”
Ummi: “Ummi juga tidak tahu. Allah gak bisa kita lihat.”
Hilmi: “Kenapa?”
Ummi: “Kita bisa lihat Allah kalau kita masuk surga nanti.”
Hilmi: “Allah itu bentuknya segitiga ya?”
Ummi: “Bukan. Bentuk Allah tidak seperti gambar-gambar bentuk.” (Hilmi sudah paham beberapa bentuk bangun ruang 2 dimensi, seperti segitiga, segiempat, dan lingkaran)
Keluarga NHA